
INFRASTRUKTUR.NEWS – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) terus mendorong keterlibatan sektor swasta untuk mempercepat pembangunan ibu kota baru. Upaya tersebut diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dan investasi swasta langsung dengan nilai mencapai triliunan rupiah.
Kepala OIKN Basuki Hadimuljono menyampaikan bahwa kolaborasi dengan dunia usaha menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan pembangunan IKN terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain mendukung penyediaan infrastruktur, investasi tersebut diharapkan mampu membuka peluang kerja bagi masyarakat.
Penandatanganan perjanjian kerja sama berlangsung pada 14 Oktober 2026 di kawasan Glamping, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara.
Pembangunan Hunian ASN Jadi Prioritas
Salah satu proyek yang disiapkan melalui skema KPBU adalah pembangunan delapan menara rumah susun bagi aparatur sipil negara (ASN). Proyek senilai Rp2,629 triliun tersebut diprakarsai PT Nindya Karya bersama PT Nindya Estate Management.
Pembangunan direncanakan berlangsung di Wilayah Perencanaan (WP) 1A dengan luas lahan sekitar 6,84 hektare. Kompleks hunian itu mencakup 288 unit rumah susun yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan tempat tinggal bagi ASN di Nusantara.
Sebelumnya, OIKN juga menjalin kerja sama dengan PT Intiland Development Tbk untuk membangun 109 unit rumah tapak bagi ASN di WP 1B. Proyek senilai Rp2,819 triliun itu ditargetkan selesai pada triwulan IV 2028.
Pengembangan hunian tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan fasilitas pendukung agar aktivitas pemerintahan di IKN dapat berjalan secara bertahap.
Investasi Swasta Libatkan Pelaku Usaha Lokal
Selain melalui KPBU, OIKN turut membuka ruang bagi investasi swasta langsung yang melibatkan perusahaan nasional, pelaku usaha daerah, hingga investor asing.
Lima perusahaan yang terlibat dalam kelompok investasi swasta tersebut adalah PT Berdikari (Persero), PT Java Teak Indo, PT Indonesia Belt Road High Tech Development Park, PT Laziz Nusantara Grup, dan PT FYP Karya Perdana. Total nilai investasi yang dilaporkan untuk kelompok proyek ini mencapai Rp1,11 triliun.
Keterlibatan PT Java Teak Indo menjadi salah satu bentuk partisipasi pelaku usaha daerah. Perusahaan tersebut menghadirkan showroom mebel khas Jepara di kawasan IKN, sehingga produk daerah berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas.
Partisipasi pelaku usaha lokal dinilai penting agar pembangunan Nusantara tidak hanya memberikan kesempatan kepada perusahaan besar, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Investor Asing Kembangkan Kawasan Komersial
Daya tarik IKN juga terlihat dari masuknya investor asing. PT Indonesia Belt Road High Tech Development Park berencana mengembangkan Grand Vista Nusantara dengan nilai investasi sekitar Rp1 triliun.
Kawasan yang berlokasi di KIPP 1B itu direncanakan mencakup fasilitas komersial, apartemen, dan perkantoran. Pengembangan tersebut diharapkan memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat pemerintahan sekaligus kawasan perkotaan yang memiliki aktivitas ekonomi.
Di sektor lain, PT Berdikari (Persero) menyiapkan proyek hilirisasi ayam terintegrasi di WP 3 dengan nilai investasi Rp177 miliar. Sementara itu, PT Laziz Nusantara Grup akan mengembangkan usaha restoran Arab dan gelato, sedangkan PT FYP Karya Perdana menyiapkan fasilitas olahraga dan komersial Teras Padu.
Keberagaman proyek tersebut menunjukkan bahwa peluang investasi di IKN tidak terbatas pada pembangunan gedung dan hunian, tetapi juga mencakup sektor pangan, kuliner, perdagangan, serta fasilitas penunjang kehidupan masyarakat.
OIKN berharap keterlibatan berbagai pelaku usaha dapat mempercepat terbentuknya ekosistem perkotaan yang produktif dan berkelanjutan. Dengan dukungan pembiayaan pemerintah, KPBU, dan investasi swasta, pembangunan Nusantara diarahkan untuk menghadirkan kawasan yang mampu menunjang aktivitas pemerintahan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.



