
INFRASTRUKTUR.NEWS — PT Semen Gresik terus mendorong pemanfaatan material bangunan dengan emisi karbon lebih rendah sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.
Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan pembangunan sekaligus tuntutan terhadap industri konstruksi agar mampu mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas produksi dan pembangunan.
Direktur Utama PT Semen Gresik Gatot Mardiana mengatakan penerapan konsep industri hijau tidak hanya dilakukan melalui perubahan pada proses produksi, tetapi juga mencakup pengembangan produk serta solusi konstruksi yang memperhatikan aspek lingkungan.
Menurut Gatot, transformasi industri hijau menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menciptakan nilai bisnis jangka panjang sekaligus mendukung penerapan konstruksi yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu upaya yang dilakukan Semen Gresik adalah menghadirkan produk semen hijau dengan intensitas emisi hingga 28 persen lebih rendah dibandingkan semen konvensional. Penerapan prinsip tersebut juga dilakukan di fasilitas produksi Semen Gresik di Rembang dengan mengutamakan efisiensi sumber daya dan pengurangan jejak karbon.
Selain mengembangkan produk rendah emisi, perusahaan menerapkan pendekatan ekonomi sirkular dalam kegiatan produksinya. Sejumlah material digunakan sebagai sumber bahan bakar alternatif, di antaranya Refuse-Derived Fuel (RDF), limbah industri, serta biomassa.
Semen Gresik juga menjalin kolaborasi dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) untuk memperluas pemanfaatan material bangunan ramah lingkungan. Kerja sama tersebut sekaligus diarahkan untuk mendorong penerapan prinsip konstruksi rendah emisi di Indonesia.
Chairperson GBCI Ignesjz Kemalawarta mengatakan konsep bangunan hijau membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Penerapannya tidak hanya berkaitan dengan desain bangunan, tetapi juga mencakup kebijakan, kinerja bangunan, hingga pemilihan material.
Ia menambahkan bahwa sektor bangunan dan properti memiliki peran dalam mendukung pencapaian target net zero emission Indonesia pada 2060. Karena itu, inovasi dan kolaborasi di sepanjang rantai industri dinilai diperlukan untuk mempercepat pengembangan konstruksi rendah karbon.
Dorongan terhadap penggunaan material rendah emisi menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan industri konstruksi berkelanjutan, terutama ketika kebutuhan pembangunan infrastruktur terus meningkat.




