
INFRASTRUKTUR.NEWS – Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, mendorong berbagai inovasi teknologi lingkungan karya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) agar diterapkan lebih luas. Teknologi tersebut dinilai mampu memberikan solusi konkret terhadap persoalan sampah, limbah cair, dan keterbatasan akses air bersih.
Dorongan itu disampaikan Jumhur saat mengunjungi Kampus ITS Surabaya, Senin (27/7/2026). Dalam kunjungan kerja tersebut, ia meninjau sejumlah hasil riset yang dipamerkan di Gedung Rektorat ITS.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian ialah ITS COMPOStech, mesin pengolah sampah organik berkapasitas hingga 50 kilogram per hari. Perangkat berkonsep ecosmart composter tersebut dapat memproses sisa makanan dan dedaunan dalam waktu maksimal 20 jam untuk setiap siklus.
Selain mempercepat proses pengolahan, COMPOStech dirancang untuk mengurangi bau serta menekan timbulnya limbah cair. Dengan ukuran yang relatif ringkas, teknologi itu dapat digunakan di hotel, restoran, kawasan wisata, industri makanan, hingga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Jumhur menilai dapur SPPG membutuhkan sistem pengolahan limbah yang efektif karena aktivitas produksi makanan dalam jumlah besar berpotensi menghasilkan sampah padat dan cair setiap hari.
“Dibutuhkan mesin yang dapat memproses limbah padat dan cair secara cepat,” kata Jumhur.
Pengolahan Air Portabel untuk Wilayah Bencana
Selain COMPOStech, Menteri LH meninjau ITS Mobile Water Treatment, sistem pengolahan air bersih portabel dengan teknologi elektrokoagulasi. Perangkat tersebut dirancang agar mudah dipindahkan dan dapat dioperasikan di daerah terpencil maupun kawasan terdampak bencana.
Menurut Jumhur, penggunaan Mobile Water Treatment bersama mesin komposter dapat membentuk sistem pengelolaan limbah yang lebih terpadu, khususnya untuk sektor makanan, perhotelan, dan pariwisata.

ITS juga memperkenalkan teknologi superworm yang memanfaatkan larva untuk membantu menguraikan limbah plastik jenis expanded polystyrene atau styrofoam. Proses tersebut berpotensi menghasilkan produk turunan berupa biomassa larva, residu organik, isolat mikroba, dan enzim.
Sementara itu, pengelolaan sampah secara digital dikembangkan melalui platform Siklusin. Sistem ini mencatat perjalanan sampah mulai dari nasabah, bank sampah, hingga industri daur ulang secara waktu nyata, sehingga data dapat dipantau secara akurat dan terintegrasi.
Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati menyatakan inovasi tersebut menjadi bagian dari peta jalan kampus menuju Net Zero Emission 2026–2030. ITS juga siap menggandeng pelaku industri untuk memproduksi COMPOStech dan Mobile Water Treatment dalam skala lebih besar.
Dalam kesempatan yang sama, Jumhur turut mencoba mobil otonom modular hasil pengembangan tim robotika ITS. Berbagai teknologi tersebut dinilai menunjukkan kemampuan perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.



